Monday, March 18, 2013

(Tak) Harus Membenci Televisi


Mulai September 2012, aku diajak LeSPI (Lembaga Studi Pers dan Informasi) menjadi fasilitator literasi media lewat blog. Secara gampangnya, literasi media adalah sebuah gerakan untuk membuat masyarakat melek terhadap isi media. Bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang tidak, sehingga bisa memilih untuk mengambil yang bagus dan meninggalkan yang tak bermanfaat dari apapun yang dihadirkan media, tidak asal nonton, baca, atau dengar.

Katy Perry: The Firework


Tahun 1992, waktu masih semester IV di STIK (kini STIKOM), aku memulai pekerjaan sebagai penulis freelance—waktu itu bareng (almarhum) M Farhan, atau yang biasa menyebut dirinya Farhan RM, karena ngefans fanatik sama Fariz RM. Dia di edisi Minggu Suara Merdeka, sedang aku di Cempaka Minggu Ini (CMI).

Tulisan perdanaku berjudul Kiat Sukses Bandrol Album, dimuat bulan Mei. Di situ aku menyorot judul-judul album penyanyi yang kreatif dan kadang nyeleneh, seperti Cooleyhhighharmony-nya Boyz II Men atau Living in the Western World (Fariz RM). Honornya Rp 25 ribu, dan lantas dinaikkan kawan baik almarhum Bapak, Pak Soejoto (almarhum juga), menjadi Rp 30 ribu.

Dongeng Enteng Sreng/Dongeng Karya Sendiri



Dulu, pas masih di Suara Merdeka—baik waktu masih di tabloid Tren maupun sesudahnya sebagai penulis freelance—aku kerap menerima order bikin artikel mendadak dari Om Daktur Kantin Banget. Kadang Sabtu sore gitu, pas deadline Edisi Minggu SM, aku sering nerima SMS berbunyi “Bikinin kuis!”, yang artinya adalah artikel kuis remaja dengan tema-tema tertentu. Semisal percaya diri, dengan tiga opsi jawaban A, B, dan C yang masing-masing menunjukkan kecenderungan ke arah sifat tertentu, biasanya “amat pede”, “gak pede”, dan “tengah-tengah”.

Lalu, normalnya penulis yang dikasih kerjaan pasti menanyakan deadline naskah. Dan jawabannya sering nggak masuk akal seperti “jam stgh 6” padahal SMS-nya jam 5 sore atau kapan itu pernah “10 menit lagi” dan aku terpaksa mengerjakannya di warnet berhubung pas di-SMS, aku pas lagi Friendster-an (zaman itu Facebook dan Twitter belum kondang).

Sarang Hae Yo: Super Junior & SNSD



Siang itu aku sedang ngegame nggak jelas di kamar kosku di Gondang Timur IV, Tembalang, Semarang. Mendadak muncul sebuah panggilan telepon dari Mbak Retno Kristy, editor kenalanku di Elex Media Komputindo. Mbak Retno menawariku pekerjaan yang tak biasa: menulis buku tentang artis Korea, yaitu Super Junior dan Girls’ Generation alias SNSD. Dua boy/girlband itu dijadikan satu dalam sebuah buku profil setebal kira-kira 120 halaman.

Aku jelas kaget. Pertama, aku hampir bisa disebut buta soal K-pop. Nama-nama itu aku pernah dengar sekilas tapi nggak tahu sama sekali. Lebih parah lagi, aku nggak begitu apresiatif terhadap gelombang budaya pop dari negerinya Park Ji-sung ini, kecuali yang adult contemporary kayak soundtrack-soundtrack sinetron sejenisnya My Memory (by Ryu, dari serial Winter Sonata) atau One (Lee So-jung; serial Friends).

Pocong Nonton Tivi


Kadang-kadang, proses kreatif penyusunan sebuah buku terjadi dengan cara yang tak lazim dan nyaris tak terpikir sebelumnya. Itu yang kualami dalam penggarapan buku terbaruku ini, Pocong Nonton Tivi: Dongeng Literasi Media terbitan Yayasan TIFA dan LeSPI (Lembaga Studi Pers & Informasi).

Biasanya aku membikin buku dengan cara biasa-biasa saja. Atas kehendak sendiri dan kutulis semauku entah kapan jadinya yang penting jadi. Sekali ini, aku (ikutan) menulis karena diundang. Jadi ceritanya, LeSPI sedang membuat proyek kampanye literasi media (melek media—warga bisa membedakan mana isi yang jelek dan baik dari satu media). Nah, untuk anak-anak, kampanye dilakukan lewat dongeng.