BookWorms

Karena saya cinta buku, maka saya membuat buku...

Wednesday, July 22, 2009

The Sweetest Kickoff


Tak ada yang lebih mengejutkan ketimbang sebuah warisan yang aneh. Farah mengalami itu saat menerima peninggalan khusus dari kakeknya yang baru saja meninggal dunia, berupa Magelang FC, sebuah klub sepakbola profesional yang berlaga di Divisi II Liga Indonesia.

Klub bola atau apapun, sebenarnya yang ia perlukan hanya sarana untuk membuatnya bisa sedikit lebih serius dan bertanggung jawab terhadap hidup. Kebiasaannya ngedugem dan beredar dari satu pesta jet set ke pesta lainnya membuat semua orang gerah. Mereka berharap Magelang FC akan memberi arah baru pada kehidupannya dan membuatnya berhenti menghambur-hamburkan uang—apalagi karena semua itu bukan duitnya sendiri.

Sayang semua tak berjalan semulus yang direncanakan. Selain nol besar soal sepakbola, sifatnya yang semau gue dan gampang naik darah mengacaukan hari-hari awal pekerjaan barunya sebagai owner klub. Bahkan ia langsung terlibat perang dingin dengan Danu, mantan pesepakbola nasional yang direkrut menjadi pelatih baru Magelang FC.

Namun bagaimanapun juga tugas berat untuk menyelamatkan klub dari jurang degradasi ke Divisi III tetap harus dilaksanakan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Farah harus pusing mengurusi orang lain, bukan dirinya sendiri.

Ada Achie yang kasmaran pada Danu tapi takut bakal kena “amnesia perasaan”, ada Agus yang membuatnya jatuh suka tapi sayangnya sudah unavailable, Richard yang benci setengah mati padanya dan tak pernah pulang ke rumah, serta juga Danu yang takut bangkit lagi dari reruntuhan masa lalu yang suram.

Tapi sebagaimana yang selalu tertulis di kartu-kartu ucapan, what doesn’t kill you only makes you stronger. Itu berlaku pula buat Farah.

Trivia

· Ini adalah novel kedua yang berkisah soal sepak bola setelah The Rain Within (2005).

· Achie dalam novel ini adalah Achie yang sama di novel Dunia Dini (2007). Demikian pula di sini muncul keluarga Perdana, pemilik perusahaan multinasional Buttercup Indonesia, yang juga muncul di Dunia Dini. Di novel itu, Achie tengah kuliah master di Undip, sebagaimana yang diceritakan di The Sweetest Kickoff.

· Di dunia nyata, klub bola Kota Magelang masih PPSM, yang kini berubah nama jadi PPSM Sakti dan berlaga di Divisi I Liga Indonesia.

· Quotes yang kutampilkan di bagian muka adalah nukilan lagu Thank You for Being a Friend dari Cindy Fee. Lagu ini adalah opening tune dari serial komedi The Golden Girls, yang dulu pada tahun 1990 kutonton lewat TV3 Malaysia. Lagunya bisa diunduh di sini.

· Farah “bertetangga” dengan adikku, Dahono, di Pondok Cabe, Tangerang. Tepatnya di Lembah Pinus perumahan Modernhill, tempat aku ber-home base tiap kali nongkrong di Jakarta.

· Ide nama Agus muncul dari begitu banyaknya orang bernama ini di perumahan tempat tinggalku, Griya Payung Asri, Pudakpayung, Semarang. Di sini ada Agus Riyanto, Agus “Beras”, Agus “Tentara”, dan masih banyak lagi.

· Ide orang ngomong full Inggris datang dari Okta dan konconya, Chou, yang tiap ngobrol berdua pasti pake bahasa Inggris untuk memfasihkan diri.

· Rondho royal adalah sejenis snek tradisional kawasan Semarang, Kendal, dan sekitarnya. Rondho (randha) artinya janda. Royal speaks of itself. Nggak tau juga kenapa makanan itu dinamai demikian. Dan lucunya, macam Farah, aku juga belum pernah melihat atau merasakan rondho royal!

· Tokoh Ika Kulkas bener-bener ada di dunia nyata. Dia adalah salah seorang member Loenpia.Net, komunitas blogger Semarang. Tinggalnya di Pringapus, Kabupaten Semarang, dan ngetop berkat website-nya, Koolsonic.

· Restoran Selera Kuring tempat welcome dinner pemilik baru Magelang FC bener-bener ada. Letaknya di dekat Terminal Bus Magelang di Jl Soekarno-Hatta. Lucunya, aku belum pernah makan di situ, jadi semua setting tempat di resto itu murni khayalan (mesakke…!). Aku juga nggak tahu apa di sana beneran ada kolamnya atau nggak!

· Seragam kaos biru-putih zebra, celana hitam, dan kaos kaki putih adalah kostum klub Sheffield Wednesday FC, yang kini berlaga di Championship Division, Liga Inggris.

· Tony Parsons, yang novelnya dibaca Achie, adalah novelis yang jadi tokoh panutan Dewie Sekar dalam bernovel. Aku baca ini di blognya pada zaman dahulu kala.

· Desa Gedongan di Borobudur, Magelang, memang bener-bener ada. Desa ini terletak di tepi Kali Sileng. Rumah tempat biasanya aku mudik persis berlokasi di tepi sungai itu. Nora Umres pernah satu kali ke sana, dan katanya mau nginep, tapi sampai sekarang belum juga dilaksanakan dengan sepenuh hati!

· Dokter Andori, yang merawat Farah selama di Gedongan, juga bukan tokoh fiktif. Dia adalah dokter langganan dan sekaligus sahabat dekat almarhum Bapak dulu. Tempat prakteknya persis di jantung kota Borobudur, dekat dengan pintu masuk ke kawasan parkiran Taman Candi Borobudur.

· Panggilan “Bu”, “Mbak”, dan “Tante” yang serba disalahkan adalah salah satu teknik dagelan Srimulat. Dulu teknik itu dimainkan dengan sempurna oleh Indri dan almarhum Timbul. Waktu jengkel karena memanggil apapun jatuhnya selalu salah, Timbul menukas jengkel “Jadi gini, wong edan…!”

· Ide manajer (pelatih) merangkap pemain kuambil dari kiprah Dennis Wise pas jadi player-manager di klub Millwall tahun 2003-2005. Bedanya, dulu Wise bermain penuh sepanjang pertandingan dan tak hanya jadi pemain pengganti. Adegan lucu terjadi tiap kali Wise menyuruh asisten manajer untuk mengganti dirinya dengan pemain lain.

Labels:

Tuesday, September 18, 2007

Say No to Love


Novel ini berkisah soal pasangan bos dan sekretaris bernama Wisnu dan Dewi. Wisnu adalah Presiden Direktur Helman Communications, sebuah perusahaan telekomunikasi dan hiburan multinasional. Ia juga merupakan putra sulung Rijanto Helman, CEO Helman Corporation, induk perusahaan Helman Comm. Hidup Wisnu berubah saat ia menerima Dewi yang rookie dan masih hijau sebagai sekretarisnya.
Iseng, ia memelonco Dewi pada hari pertama gadis itu masuk kerja. Tak disangka, Dewi marah dan mengamuk sejadinya gara-gara peloncoan itu. Wisnu yang merasa bersalah pun lantas minta maaf dengan cara yang sangat spektakuler. Dan awalan yang agak aneh itu lantas membawa hubungan mereka ke titik yang juga tak terduga-duga.
Lebih dari sekadar bos dan sekretaris, keduanya segera saja menjadi akrab dan dekat mirip sepasang sobat pada masa sekolah atau kuliah. Tak hanya itu, pembawaan Dewi yang ceria dan berbagai keahlian serta minatnya membawanya diterima dengan cepat oleh keluarga Helman.
Maka, berbagai rumor, gosip, selentingan, dugaan, dan tuduhan soal kedekatan mereka pun merebak. Hampir semua orang sepakat bahwa mereka harus jadian, karena keakraban mereka membuktikan bahwa keduanya memang sama-sama pas satu sama lain.
Lucunya, Wisnu dan Dewi sendiri justru cuek bebek dan menganggap semuanya angin lalu. Mereka sama-sama nggak menemukan chemistry dan special feeling yang membuat keduanya harus bergerak lebih dalam daripada sekadar pertemanan biasa.
Namun ketika kisah cinta masing-masing akhirnya kandas—dan sama-sama kena batunya oleh cinta—, mereka pun dihadapkan pada satu kenyataan yang amat sukar ditelaah. Jika memang sudah sama-sama cocok dan perfect for each other, masih perlukah cinta menjadi bumbu dan alasan untuk bersatu?
Trivia:
Judul-judul bab dalam buku ini memakai kalimat dan frase-frase dalam bahasa Latin yang selama ini dijadikan motto, semboyan, pandangan hidup, atau slogan dari berbagai organisasi, lembaga, sekolah, dan universitas di seluruh dunia.
Ungkapan “Gedhang kawak, dhele kawak… wong liya dadia sanak!” berasal dari tetembangan dalam lakon Gara-gara (dagelan Petruk-Gareng cs) salah satu pentas mendalang wayang kulit Ki Hadisugito yang kudengar sekitar tahun 1985-an. Tembang itu berjudul Lepetan. (Lepet=sejenis snek Jateng & Jogja yang berbentuk mirip lemper) Dalam Gara-gara itu, Bagong bernyanyi memelesetkan liriknya menjadi “Gedhang kawak, dhele kawak… wong liya dadia sambel!”.
Kaset Romantic Jazz yang diobrolkan Dewi dan Pak Helman dalam pertemuan pertama mereka adalah kaset jazz favoritku. Dan lagu Angela II-nya Charnett Moffett juga merupakan lagu favoritku dari album itu. Aku membeli kaset itu pada bulan Desember 1992 dan hingga sekarang masih ada. Masih rajin kuputer meski kualitas suaranya sudah menurun termakan usia.
Nomor ponsel Pak Helman yang ia diktekan pada Dewi di halaman 101 adalah nomor ponselku. Itu satu-satunya nomor HP yang kupunya sejak 2001 sampai sekarang (lain dari orang-orang, aku nggak hobi ganti atau nambah nomer HP). Itupun bukan nomer baru karena aku beli dari Jatmiko, temanku, seharga Rp 150 ribu. Di buku, tiga digit terakhir dihapus oleh Mbak Ike, editor GPU. Padahal dibeberkan terang-terangan pun nggak papa. Tiga digit terakhir itu adalah “094”.
Novel teenlit bersampul biru cerah yang diambil dan dibaca-baca Dewi di TB Gramedia sebelum bertemu Pak Helman adalah Kok Jadi Gini?, novel pertamaku yang memang berkaver biru.
Rumah makan Padang Sederhana tempat makan Dewi dan Pak Helman sesudah belanja buku di TB Gramedia betul-betul ada. Letaknya di Jalan Pandanaran, Semarang, dan kondisinya tak sesederhana namanya.
Wartel Boing tempat makan duren Wisnu dan Reva benar-benar ada. Letaknya di Kecamatan Jambu, Ambarawa, di ruas jalan utama Semarang-Magelang. Warung itu jadi langganan hang out-ku bareng tim Kantin Banget Suara Merdeka tiap kali roadshow ke arah selatan.
Fany yang ditemani Dewi menjaga front desk stand Indonesia di Malaysia International Trade & Commmerce Expo adalah Fany temanku si dedengkot Loenpia.Net (http://faniez.net/blog). Fany yang asli juga tinggal di Jalan Barito, Semarang, dan ortunya punya bisnis travel agent. Tapi Fany yang asli kuliahnya nggak di Kuala Lumpur.
Anita pacar Reva yang menemui Dewi di Kampung Laut adalah Anita editor fiksi Tabloid Abege yang membantu penyelidikan Dini dan Maya dalam Dunia Dini, sedang Rizal Anggodo yang merupakan sepupu Dewi adalah Rizal sahabat Rio yang dalam Dunia Dini naksir Maya tapi sekaligus jatuh cinta pada Dini.
Ending cerita di mana si cowok mendatangi rumah si cewek pada pagi dini hari terilhami ending film As Good as It Gets. Bedanya, jika Carol Connelly (Helen Hunt) dan Melvin Udall (Jack Nicholson) lantas jalan-jalan untuk nyari kedai roti yang buka paling pagi, di sini Dewi dan Wisnu lantas masuk rumah untuk nonton DVD dan lantas sahur bareng.
Goof:
Pada sekitar bulan September-Oktober, Wartel Boing tak mungkin menyajikan duren, karena musim duren berlangsung antara Januari hingga April. Sesudah musim duren berakhir, Wartel Boing ganti berjualan kelapa muda.

Labels:

Friday, June 01, 2007

Dunia Dini

Sesudah diterima menjadi reporter baru Majalah Tinta, majalah sekolah SMA Negeri 25 Semarang, tugas pertama Dini adalah mewawancarai Pak Sasongko Rahardjo, mantan kepala sekolah mereka yang telah pensiun. Ia ditemani Maya dan kemudian bertemu Anita, editor Tabloid Remaja Abege, yang kebetulan juga tengah akan mewawancarai tokoh yang sama.
Namun acara interviu mereka gagal karena Pak Sas tiba-tiba hilang tanpa ketahuan rimbanya. Pak Sas meninggalkan rumahnya dalam keadaan pintu tak terkunci dan anak kuncinya masih terpasang di tempatnya. Situasi jadi makin mengherankan ketika ketiga cewek itu mendengar bahwa Pak Sas tengah terkena perkara korupsi semasa ia masih menjabat Kepsek SMA 25 dan kasusnya sudah akan disidangkan.
Bertiga, mereka mulai melacak keberadaan Pak Sasongko dan apa sebenarnya yang membuatnya mendadak lenyap. Penyelidikan investigative reporting mereka kemudian memunculkan banyak fakta yang mengejutkan, seperti misalnya keberadaan Pak Sas sebagai salah satu anggota Dewan Komisaris perusahaan makanan olahan multinasional, PT Buttercup Indonesia.
Siapa sebenarnya Pak Sasongko? Benarkah ia sebenarnya adalah seorang multijutawan yang sangat kaya raya? Lalu apa kaitannya dengan kematian Bu Alexa Perdana, anak dari pendiri PT Buttercup, Pak Samuel Perdana? Dan mengapa seolah-olah ia memendam kisah masa lalu yang sangat tragis dan luar biasa?
Pada saat yang sama, Maya tengah dilanda cinta pada Rizal, teman kuliah Rio, kakak Dini. Awalnya semua berjalan lancar karena Rizal pun menyukai Maya yang cantik dan unik. Sayang kemudian kisah cinta mereka menemui belokan jalan yang memusingkan ketika Rizal tahu-tahu jatuh cinta pada orang yang sama sekali tak terduga-duga.
Trivia:
Komen Anita soal “dangkal tapi revolusioner” aslinya adalah omongan dia waktu dia dan aku ngobrolin game-game di situs GameHouse dan Yahoo! Games macam Zuma Deluxe, Luxor, atau Bejeweled.
Sebenarnya masih ada satu subplot lagi di Dunia Dini, yaitu soal Rio yang nemu seekor anjing pudel dan membawanya berkenalan dengan seorang dokter hewan cantik bernama Vety. Tapi karena terlalu tebal dan harus direvisi, plot itu terpaksa diilangi dan disimpan untuk episode lain Dunia Dini (kalau ada!).
Tokoh Bu Ria kuambil dari Bu Ria guru Bahasa Indonesia SMA Bruderan, Purwokerto, yang sekitar tahun 2005 lalu pernah mengundang Tabloid Tren untuk jadi pembicara di training jurnalistik yang diselenggarakan SMA Bruderan. Waktu itu aku berangkat bareng Martiana N Hartanti dan Dwi NR.
Anita yang asli menyatakan diri pensiun sebagai novelis setelah menerbitkan dua novel dan kini bekerja di kantor PMI Cabang Jateng di Jl Tanjung, Semarang.
Nomor telepon rumah Dini (766308xx) adalah nomor telepon rumah Martiana N Hartanti di Pamularsih. Sedang nomor telepon Bu Erma (67334xx) adalah nomor telepon Unik Dian Mumpuni (editor Tabloid Cempaka Minggu Ini, Semarang) di Medoho. Coba buktiin sendiri!
Nora Umres yang asli kini hilang tak ketahuan rimbanya mirip Pak Sasongko Rahardjo. Ada yang mau bantu nyariin?
Tokoh Achie yang memiliki blog berjudul My Alive and Kicking Days terinspirasi oleh sobatku Asri Wijayanti. Dia punya weblog yang berjudul Days of a Girl (http://daysofagirl.blogspot.com/) dengan tagline yang berbunyi “These are the stories of my alive and kicking days”.

Labels:

Thursday, April 13, 2006

Teen's Heart: Rendezvous at 8

Judul: Teen’s Heart: Rendezvous at 8
Pengarang: Wiwien Wintarto
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal: 253 halaman
Cetakan: Ke-1 (Maret 2006)
Genre: Romance/comedy
Harga: Rp 28.800
Kisah dibuka saat Vida diaudisi menjadi vokalis band indie lokal Semarang, Rendezvous. Vida yang masih duduk di kelas XI SMA Lazuardi langsung diterima, dan ia segera menjadi bagian dari Rendezvous yang terdiri atas Erland pada keyboard, Tika (bass), Okan (drum), dan Bima (gitar). Rendezvous beraliran smooth jazz dan R&B. Mereka baru aja ditinggal cabut vokalis lama mereka, Eva.
Keberhasilan itu udah pasti bikin Vida gembira bukan main. Yang lebih histeris adalah Leia, sobat karibnya. Leia sudah sejak lama ngefans berat sama Erland. Dan perasaan itu kemudian berubah jadi sesuatu yang dalam manakala ia putus dari Diko, cowoknya, dan mulai berteman baik dengan Erland.
Sayang euforia Vida dan Leia nggak berumur panjang. Terutama Vida sebagai personel tergres, ia langsung berhadapan dengan realitas yang terpampang bahwa Rendezvous sebenarnya tengah terancam bubar karena digerogoti permasalahan internal yang amat parah. Dan semua persoalan itu bersumber dari diri Erland yang arogan, sok ngatur, kepala batu, dan nggak pernah mau mendengar pendapat orang lain.
Nggak hanya itu, masing-masing personel pun membawa problem-problem pribadi yang amat gawat. Meski beda-beda, tapi ujung pangkal permasalahan mereka cuman satu. Mereka kesepian, hidup sendiri, dan nggak punya keluarga yang manis, rukun, dan hangat kayak keluarga Vida.
Lucunya, tanpa dikomando, mereka seperti menemukan pelabuhan pencarian mereka pada diri Vida. Untuk pertama kalinya seumur hidup, mereka menemukan rumah dan keluarga tempat pulang, biarpun itu bukan rumah dan keluarga mereka sendiri. Buat pertama kali, akhirnya ada yang selalu mau bikinin mereka nasi goreng lezat dan ngasih ruang untuk tidur pulas meski berdesak-desakan.
Perlahan tapi pasti, sekalipun nggak disengaja, Vida akhirnya bisa mengurai benang kusut permasalahan mereka satu demi satu. Ia berhasil merekatkan kembali Rendezvous dan mengubah nama band itu jadi Rendezvous at 8. Selain itu, ia juga langsung bisa menulis dua lagu berlirik bahasa Inggris buat mereka, yaitu Even If the Stars Would Fall dan Rendezvous at 8.
Di pihak lain, ada jalinan cinta agak rumit yang semua bersumber dari dirinya. Erland langsung suka sejak pertemuan pertama, karena wajah Vida mirip sekali dengan wajah mendiang mamanya. Ada juga Wira, editor Tabloid Remaja Abege, yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Terakhir ada Rudi, teman Vida sejak kecil, yang tahu-tahu saja, nggak ada hujan nggak ada angin, terpanah asmara gara-gara sindrom waiting traisn jalaran saka kulaiyen (witing tresna jalaran saka kulina-Red).
Vida yang polos nggak menyadari semua pusaran yang sangat menguras emosi itu. Yang tahu justru sobat-sobat karibnya itu, Leia dan Rudi. Mereka pula yang paling menderita gara-gara urusan ini. Rudi lunglai karena Vida kayaknya nggak ada rencana untuk balas menganggapnya secara khusus. Sedang Leia yang bener-bener kasmaran pada Erland sepeninggal Diko, dengan berat hati harus menerima kenyataan bahwa hati Erland udah kadung tertambat ke orang lain.
Tapi seperti ungkapan “hidup ini mirip pasar kaget karena selalu penuh dengan barang-barang yang mengagetkan”, akhirnya tetep aja akan ada kejutan manis buat semua orang, terutama bagi mereka yang menderita dan nelangsa karena asmara.
  • Semua band indie lokal di cerita ini fiktif, kecuali Paprika. Vokalis Paprika, Chika, adalah teman baik saya. Di rumah dia biasa dipanggil Pipin. Rumahnya, sekaligus base camp Paprika, bener-bener berlokasi di Tegalsari, Semarang.
  • Semua judul bab dalam Rendezvous at 8 adalah judul lagu: Thank You (The Commodores), Prelude to a Kiss (Ella Fitzgerald), Make It Like It Was (Regina Belle), The First Time Ever I Saw Your Face (Roberta Flack), You Make Me Feel Brand New (Roberta Flack), Faces of the Heart (Dave Koz), Midnight at the Oasis (Brand New Heavies), Welcome to My Life (Simple Plan), Your Heart Will Lead You Home (Kenny Loggins), When Love & Hate Collide (Def Leppard), Even If the Stars Would Fall (Rendezvous at 8), I Will Keep Your Dreams Alive (Peabo Bryson & Patti Austin), You’ve Got a Friend (James Taylor), Nothing’s Gonna Stop Me Now (David Pomeranz; opening tune serial TV Perfect Strangers), Shelter from the Rain (Warren Hill), If We Hold on Together (Diana Ross), Baby Don’t You Break My Heart Slow (Vonda Shepard), That’s What Love is For (Amy Grant), Tak Tergantikan (Rendezvous at 8), After All (Al Jarreau), Rendezvous at 8 (Rendezvous at 8), What a Difference a Day Made (Aretha Franklin), Love Makes Things Happen (Pebbles & Babyface), This Night is Gonna Last Forever (MSG), Two Less Lonely People in the World (Air Supply), Nothing’s Gonna Stop Us Now (Starship), Go the Distance (Michael Bolton), Let’s Face the Music and Dance (Diana Krall), dan The Perfect Year (Dina Carroll).
  • Bella dan Emma, teman akrab Vida & Leia, adalah Bella dan Emma dari novel kedua saya, Waiting 4 Tomorrow.
  • Elan Naratama, pemain yunior PSIS yang akan diwawancarai Wira, adalah Elan tokoh utama novel ketiga, The Rain Within.
  • Rainie Febri, marketing Radio Ozone yang mensponsori event jurnalistiknya Leia, adalah Rain sang milyuner boss Taurus Corp, pacar Elan dalam The Rain Within.
  • Tabloid Liga adalah kantor tempat bekerja Adi, tokoh utama novel pertama, Kok Jadi Gini?.
  • Bareng Adi, Wira nongol jadi “cameo” di The Rain Within, yaitu ketika Elan menonton sesi pemotretan Wening di Redaksi Abege dan bertemu dengan Jecy dan Aya, dua sobat Wening.
  • Vida bareng Rendezvous at 8 nongol sekilas dalam The Rain Within. Mereka tampil sepanggung dengan Romantic Tractor dan Paprika dalam pensi graduation day SMA Lazuardi yang dihadiri Elan & Rainie.
  • Di bagian akhir Rendezvous at 8 muncul sekilas Dini dan Maya, anak SMA Negeri 25 yang jadi reporter magang Tabloid Abege. Mereka akan jadi dua tokoh utama dalam novel kelima.
  • Tiga lagu Rendezvous at 8 yang ada dalam buku ini, yaitu Even If the Stars Would Fall, Tak Tergantikan, dan Rendezvous at 8, adalah betul-betul ada, hanya saja belum ada yang mau memproduksi mereka jadi lagu beneran.
  • Tabloid Remaja Abege adalah fiksionalisasi “almarhum” Tabloid Remaja tren, Semarang. Sebagian krunya pun juga sungguh-sungguh ada di dunia nyata. Roman adalah Dwi N Roma, Bona adalah Martiana N Hartanti, dan Herman adalah EYS Hermansah yang dalam kehidupan sehari-hari juga menekuni editing video dengan Ulead. Sedang Wira mengambil personifikasi Aricx Ardana, reporter Tabloid Seputar Semarang.
  • Geng Penjelajah Mal betul-betul eksis (hanya member-nya bukan Bella, Emma, Wendy, dan Vida) dan pernah memutari Mal Ciputra di Simpanglima, Semarang, mulai buka pagi sampai tutup malam harinya nonstop.
  • Kisah orang yang makan nasi goreng lambat-lambat hanya karena ingin lebih lama menikmati kelezatannya benar-benar nyata dan pernah terjadi. Nasi gorengnya buatan Maya, kakak sepupu saya, yang disajikan di Kafe Mutiara, kafe miliknya di Tembalang, Semarang. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1999.
  • Vida adalah fiksionalisasi Anjang Fida, sahabat baik saya. Rumahnya betul-betul terletak di Jalan Beruang No 49, Semarang, yang berada persis di dekat jalan tol Pedurungan-Banyumanik. Bedanya, dia nggak pernah jadi anak band dan sekarang jadi sekretaris di Wirtgen, Jakarta.
  • Pembangunan pujasera di sekitar polder depan Stasiun Tawang adalah fiktif. Hingga kini kawasan itu masih kumuh, sepi, mengerikan, dan bau, padahal bisa dijual sebagai kawasan pedestrian dan wisata kota kuno yang menarik (halo, halo, gimana nih Pemkot Semarang?).
  • Setting waktu Rendezvous at 8 (menjelang Tahun Baru 2006) adalah setengah tahun lebih awal dari setting waktu The Rain Within (bulan Juni, akhir tahun ajaran dan akhir musim kompetisi sepakbola 2005/06).
  • Temporary Insanity adalah nama biro iklan yang didirikan Sarah Reeves Merrin (Jennifer Love Hewitt) dalam serial TV Time of Your Life.
  • Terminal bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, adalah bener-bener tempat yang unik dan asyik untuk melihat sunrise dan sunset, tapi tak banyak orang Semarang sendiri yang tahu.

Monday, September 19, 2005

Teen's Heart: The Rain Within (2005)

Rilis: Agustus 2005
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal: 225 halaman
Genre: Drama/comedy/romance

Bagi saya, sepakbola lebih dari sekadar hobi. Ia adalah sumber inspirasi, motivasi, dan tempat untuk belajar tentang sportivitas, kejujuran, dan semangat kebersamaan. Karena itu, dalam The Rain Within, saya membuat sepakbola menjadi simbol perjuangan hidup. Hidup yang harus diperjuangkan.
Buku ini bertutur tentang Elan, pemain yunior PSIS Semarang yang dipinjamkan ke Persikas Kabupaten Semarang. Diramal punya masa depan cerah, Elan justru meninggalkan impian bolanya ketika ia membuat kesalahan fatal yang membuat Persikas gagal promosi ke Divisi I Liga Indonesia.
Di tengah keterpurukan itu, ia justru bertemu lagi dengan Wening, cinta masa lalunya. Ironisnya, saat ia sendiri sedang butuh pertolongan, Wening justru datang dengan segepok masalah gede yang membuat hidupnya limbung. Dan satu-satunya tempat ia bisa minta tolong hanyalah Elan.
Kemudian, Elan bertemu dengan gadis lainnya lagi, Rainie. Cewek mungil yang misterius ini mati-matian mensuport Elan agar menemukan kembali keberaniannya untuk menggocek bola lagi. Nggak cuman ia berhasil membuat Elan balik lagi ke lapangan hijau, Rainie juga memberi Elan sesuatu yang sangat berharga: another life, another future!
The Rain Within saya tulis dengan twist and turn yang sangat heboh, mirip pertandingan bola Liga Inggris yang berakhir dengan skor 4-4, 4-3, atau 3-3. Versi asli cerita ini berjudul Rain dan cuman nampilin Elan dan Rainie tok, setebal hanya 120 halaman. Tapi kemudian Elex Media mengganti format Teen’s Heart menjadi lebih tebal dari 200 halaman.
Menambah sebuah novel sebanyak 100-an halaman sama aja dengan bikin satu novel baru. Akhirnya kendala ini saya akali dengan menambahkan satu tokoh baru, yaitu Wening, dan satu subplot baru, tentang masalah Wening dengan Yoga, cowoknya, yang cemburuan dan sangat posesif. Untung akhirnya jadi juga…
Buku ini aslinya merupakan modifikasi dari novel lawas saya dari tahun 1993 yang berjudul Intan. Tokoh utamanya saat itu adalah Intan (diambil dari nama sobat saya di SMA 5 Semarang, Intan Wijayanti…). Setelah sekian lama ide “cewek misterius” terpendam, akhirnya saya masukkan plot itu ke dalam cerita sepakbola Elan.
Yang paling berkesan dalam proses pengerjaan novel ini adalah saat saya menuliskan “Hidup baru berharga bila diperjuangkan. Menang atau kalah ada di tangan Tuhan. Karenanya marilah rayakan perjuangan!”…

Teen's Heart: Waiting 4 Tomorrow (2005)

Rilis: Mei 2005
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal: 162 halaman
Genre: Drama/romance

Waiting 4 Tomorrow adalah novel kedua saya untuk serial Teen’s Heart. Di buku ini, saya nampilin materi yang udah kerap kali ditampilkan di film-film dan buku-buku melodrama kuno Indonesia, yaitu cinta beda status.
Bella, tokoh utama novel ini, adalah seorang ABG jet set yang berwatak “tipikal” orang jet set: judes, nggak ramah, kekanak-kanakan, egois, dan suka meremehkan orang lain. Sedang Bagas, tokoh utama kedua, adalah seorang pemuda sederhana dari pedalaman Temanggung yang “otomatis” harus rendah hati, baik, penyabar, dewasa, dan saleh.
Lewat Emma, sobat Bella yang mantan tetangga Bagas, pemuda dusun ini mendapat pekerjaan sebagai sopir pribadi Bella. Benci atas intervensi sahabatnya, Bella bersumpah Bagas hanya akan betah bekerja seminggu. Sayangnya, sumpah itu berbalik jadi senjata makan tuan ketika Bagas dengan the power of love-nya justru membuat Bella menjadi Bella yang sama sekali lain.
Susahnya, ketika mereka berdua udah saling merasa dekat, sama sekali mereka nggak tau bahwa Emma udah lama memendam simpati yang amat dalam pada sosok Bagas. Dan semua perasaan sayang terpaksa harus dipendam ketika Bagas pergi ke Malaysia untuk berkarier sebagai mekanik tim balap Formula Asia kepunyaan perusahaan telekomunikasi tempat ayah Bella bekerja.
“Kok ending-nya menggantung?”. Begitu komentar teman-teman saya. Emang nggantung, karena Waiting 4 Tomorrow rencananya akan saya bikin jadi trilogi yang mengisahkan jalinan cinta dan persahabatan Bella-Bagas-Emma. Tunggu aja tanggal mainnya!
Buku ini sebenernya naskah kuno saya dari era tahun 1996 lalu. Judulnya Bella. Waktu itu saya masih suka dengerin RCTFM 100.9 pada awal dekade 1990-an dan terkesan pada dua penyiar radio itu, Bella Laksmana dan Emma Amalia (yang ini sekarang kerja di FeMale 96.1 FM bareng Asri Wijaya alias Java Flava!). Sewaktu mau ngirim ke Elex Media, saya menghabiskan waktu hampir 10 jam untuk men-scan halaman-halaman ketikan mesin tik Jowo menjadi file MS Word.
Dalam versi aslinya, Bella akhirnya jadian dengan Bagas dan Emma akhirnya nemu teman baru yang bernama Ekki. Tapi karena ending “semua-akhirnya-dapat-pacar” terlalu wagu dan mirip telenovela, akhirnya tokoh Ekki saya buang dan ending-nya saya bikin menggantung biar beda dari kebanyakan novel-novel teenlit yang selalu “berakhir di jadian”…

Teen's Heart: Kok Jadi Gini? (2005)

Rilis: April 2005
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal: 169 halaman
Genre: Comedy/romance

Inilah buku pertama saya yang bener-bener berupa novel dan nama saya dipampang jelas di kover buku. Teen’s Heart adalah label Elex Media Komputindo untuk menyaingi Teenlit-nya Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan novel-novel remaja terbitan GagasMedia yang booming di pasaran.
Buku ini berkisah tentang Adi, reporter Tabloid Olah Raga Liga yang senewen karena lagi-lagi dicomblangkan dengan putri teman akrab ortunya yang nggak lain adalah bosnya sendiri di kantor. Setelah dulu dengan Rita, kini dengan adiknya, Dilla.
Pencomblangan itu sebenernya punya maksud tersembunyi. Para ortu pengin menjauhkan Adi dari Ratri dan Dilla dari Davin, para camen (calon menantu) yang dianggap nggak lolos “fit & proper test”. Adi dan Dilla lantas berkonspirasi untuk pura-pura pacaran agar ortu-ortu mereka kehilangan perhatian atas Ratri dan Davin.
Tapi apa nyana, justru setelah sekian lama hang out bareng, mereka justru saling merasa cocok dan akhirnya… jatuh cinta beneran. Situasi jadi ruwet manakala para ortu menyadari kekeliruan mereka atas pencomblangan itu justru ketika Adi dan Dilla tahu bahwa kemungkinan mereka bersatu sebagai sepasang kekasih sama sekali bukan sesuatu yang mustahil!
Kok Jadi Gini? adalah naskah lama yang saya buat sejak tahun 2000. Pada tahun 2002, naskah ini pernah saya kirim ke GPU dengan judul Takkan Pernah Berdusta, tapi ditolak. Lucunya, surat penolakan berikut naskahnya tiba pada hari yang sama dengan kedatangan surat pemberitahuan dari ILP yang menyatakan bahwa puisi saya, The Final Good News, masuk dalam buku antologi puisi The Colors of Our Dreams.
Bulan Desember 2004, naskah yang sama kembali saya kirimkan ke Elex Media. Untung kali ini gol. Hanya aja, judulnya yang sama sekali nggak mencerminkan semangat ke-Teenlit-an akhirnya diganti oleh pihak editor (Mbak Retno Kristy) dengan Kok Jadi Gini?.
Buku ini merupakan dream comes true. Setelah mengimpikan bisa nerbitin novel sejak 1985, akhirnya keinginan itu baru bisa terwujud tahun ini, 2005. Cool…!

The Colors of Our Dreams (2002)

Author: Noah Bevins (Editor)
Rilis: Juli 2002
Penerbit: International Library of Poetry, Owings Mills, Maryland, USA
Tebal: 279 halaman
Genre: Anthology/poetry

Saya jadi penyair di taraf internasional? Kayaknya ini merupakan sebuah gagasan yang sangat sukar untuk ditelaah dengan akal sehat, bahkan oleh diri saya sendiri. Tapi saya emang pernah masuk dalam sebuah buku antologi puisi terbitan Amerika Serikat, meski cuman untuk level penyair amatir.
Ceritanya, sekitar pertengahan 2001, mengikuti jejak Redpel Tabloid tren saat itu, Kang Budi Maryono, saya mencoba nulis puisi untuk situs Poetry.Com milik International Library of Poetry (ILP). Saya pun mencoba-coba nulis puisi bahasa Inggris. Judulnya The Final Good News.
Puisi itu diikutkan ke kontes tahunan puisi amatir tahun 2001. Sayang pas pengumuman bulan November, puisi saya gak masuk final yang berhadiah duit $ 10.000 (Rp 100 juta). Tapi meski cuman sampe semifinal, The Final Good News tetep masuk ke buku antologi puisi berjudul The Colors of Our Dreams yang kovernya luar biasa keren ini.
The Final Good News dipajang di halaman 56, bareng beberapa judul lain kayak Clouds karya Jennifer Neal, Mariner of Life (Tristan Cooper), Cherished (Jamie Diane Cook), dan juga Just Three Words (Emily Dorman).
Yang jelas kiprah saya sebagai penyair amatiran internasional nggak berlanjut lagi abis itu. Sampai sekarang, saya cuman punya dua stok puisi di Poetry.Com. Selain The Final Good News, satu puisi lagi adalah Blue Jasmine yang saya dedikasikan untuk teman saya yang penyair sungguhan, Lani Herlina.
Bikin puisi itu emang asli sulit, apalagi yang pake bahasa Inggris…

Panduan Praktis: Pembuatan Homepage dengan MS FrontPage 2000 (2002)

Rilis: Februari 2002
Penerbit: Wahana Komputer, Semarang/Andi Offset, Yogyakarta
Tebal: 250 halaman
Genre: Non fiction/computers/guide
Status: Uncredited

Jauh sebelum era Teen’s Heart, sebenarnya inilah buku pertama saya. Panduan Praktis: Pembuatan Homepage dengan MS FrontPage 2000 berisi tuntunan praktis dan aplikatif untuk membuat website sendiri memakai program MS FrontPage 2000 yang udah termasuk dalam OS Windows 98 ke atas.
Cuma aja, di buku ini status saya masih uncredited. Nama saya sebagai pengarang nggak dicantumin di buku, karena emang demikianlah perjanjiannya dengan pihak penerbit, khususnya Wahana Komputer.
Kontrak kerjanya saat itu emang berat di penerbit. Salah satu klausulnya nyebutin, kalo terjadi kasus tuduhan pelanggaran hak cipta, semua tanggung jawab ada di pengarang pribadi, sementara nama pengarang nggak boleh dicantumin. Jika bukan karena para pengarang lagi desperately bener-bener butuh kerjaan, rasanya nggak akan ada penulis yang mau melayani tawaran kerja model begini!
Buku ini saya kerjakan periode September-Desember 2001. Agak lucu juga kalo diingat, soalnya waktu itu (dan juga hingga sekarang) saya nggak mudeng sama sekali pengoperasian FrontPage. Saya cuman tahu cara-cara globalnya, tapi kalo disuruh bikin situs sungguhan, jelas angkat tangan.
Saat ini pun saya masih heran bagaimana dulu saya bisa bikin rentetan penjelasan sedetail dan seaplikatif itu. Bahkan rasa-rasanya yang nulis buku itu orang lain sama sekali. Orang yang beli dan lantas baca dan lantas mraktekkin sungguhan semua guide di buku itu pasti mengira saya ini pakar web design kelas mahir. Padahal satu-satunya website yang sekarang saya punya cuman nebeng di GeoCities, hehe…!
Untuk mengatasi kendala uncredited tadi, saya memasang nama dan profil saya dalam contoh-contoh gambar panduan membuat website pribadi di Bab IV mulai halaman 45. Di situ nampang jelas nama Wiwien Wintarto, profil, tanggal lahir, dan juga email. Pokoknya, gimana mereka mengakali pengarang, pengarang harus bisa balik mengakali klausul kontrak!